Pertama Kali Tahu Tentang Ablasio Retina

Assalamualaikum Wr Wb..

Hai teman teman sekalian.. Aku mau cerita tentang pengalaman ablasio retina yang dialami oleh suamiku tahun 2019. Harinya pas banget 1 hari sebelum ulang tahunnya suami harus operasi besar ini.. Ini juga tepat 1 tahun setelah suamiku lasik. 

Tapi kami percata everything happen for a reason, kami yakin pasti ada maksud dan hikman baik dibalik musibah ini. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin..

Yang baca artikel ini bisa jadi memang sedang mencari tau apa itu ablasio retina, bagaimana penanganannya dan apakah masih bisa sembuh seperti sediakala ?

Ablasio retina merupakan situasi darurat dimana lapisan tipis jaringan (retina) di bagian belakang mata tidak berada di posisi normalnya. Ablasi retina memisahkan sel-sel retina dari lapisan pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi. Semakin lama albasi retina tidak diobati, semakin besar risiko kebutaan permanen pada mata yang terkena. (dikutip dari halodoc yang ditinjau oleh dr Fadhli Rizal Makarim)

Jadi secara sederhana menurut aku yang bukan dari dunia medis ini, ablasi retina terjadi karena : adanya sobekan pada retina -> cairan mata/vitro keluar dan mengakibatkan retina terangkat/terlepas -> ablasio retina.

Kerena retina tidak menempel pada dinding mata yang seharusnya memberikan nutrisi dan oksigen maka retina bisa mati dan tidak berfungsi lagi, selain itu jika sobekan sampai di makula atau titik berkumpulnya cahaya maka secara fungsi mata juga sudah tidak bisa diselamatkan. naudzubillah.. inilah mengapa pentingnya kita mengetahui penyakit ini, terutama bagi mereka yang punya resiko sobek atau pun ablasi retina. 

Siapakah yang beresiko sobek retina ?

1. Orang dengan minus yang tinggi

2. Orang yang sering berolahraga ekstrem seperti jetski atau pun olah raga yang banyak guncangan tinju, gulat dll

3. Pernah dengar di youtube juga orang cerita orang yang kepalanya sering terbentur juga mengalami ablasi retina

Nahh suami ku ini masuk ke kategori nomor 1 yaitu minus 14 dan 16 tapi sekarang udah di lasik. Dari kecil memang sudah minus dan pakai kaca mata, ini ada faktor genetik. Jadi orang dengan minus besar itu biasanya secara genetik bentuk bola matanya lonjong, hal ini yang menyebabkan resiko ablasi atau sobek retina semakin besar. Ibaratnya karena bola mata yang lonjong jadi syaraf matanya kan tertarik lebih kuat sehingga syaraf syaraf retina lebih tipis dan rentan sobek.

Yuk Cerita Yuk.. 

Nahh jadi awalnya waktu itu suamiku ngerasa ada yang aneh sama matanya, suamiku udah biasa sama yang namanya floaters (dijelasin pada artikel yang lain ya). Tapi kali ini beda dari yang biasanya semakin banyak dan seperti keruh. Waktu itu kejadian hari Jumat/Sabtu. Kita ga langsung ke dokter karna seminggu sebelumnya baru kontrol rutin dan katanya ga ada masalah. Tapi semakin kesini ko semakin parah sampai akhirnya hari minggu pandangan sudah hilang sebagian, kurang lebih seperti ini :





ini terjadi pada salah satu matanya, yang satu nya lagi normal. 

Akhirnya ketika senin kita langsung ke Rumah Sakit Bandung Eye Center bertemu dengan dr Agus, beliau langsung bilang ini harus segera operasi karena retinanya sobek. Kaget ? ya pastilah.. walaupun kita setiap 6 bulan itu pasti rutin cek kesehatan mata suami tp ketika dikasih tau sobek retina aku sempet dibawa ke pemikiran terburuk. Mertuaku juga sama soalnya, satu mata beliau akhirnya tidak bisa diselamatkan. Tapi aku dan suami berusaha menepis fikiran-fikiran negatif itu, kita optimis ini bisa sembuh dan terselamatkan. 
Dokter tanya apakah ada BPJS jika ada lebih baik pakai BPJS karena ini bisa cover BPJS. Akhirnya kita coba pake jalur BPJS.. sambil bawa rujukan CITO operasi dari dokter.
Hmm kalau kata orang BPJS itu ribet, yaa saat itu kita merasakan memang iya.. dari RS BEC kita ke faskes 1/ puskesmas deket rumah untuk minta rujukan ke rumah sakit tingkat 1 tp ternyata jam 1 atau jam 2 ke puskesmas dibilang sudah tutup jadi tidak bisa dapat rujukan, harusnya daftar dari awal. sempet kesel banget sama satpamnya aku udah ngotot dan bilang ini CITO harus segera operasi dan minta ketemu dokter tp dia bilang tetap ga bisa.. astagfirullah..
akhirnya kita langsung aja ke RS tingkat 1 waktu itu RS PINDAD niatnya daftar ke poli biar dapat rujukan juga, tapi ditolak karna harus ada rujukan dari faskes 1. Sebelkan, dengan kondisi mata suami yang seperti itu kesel kan.. Kita udah sempet mau menyerah pulang dan balik lagi aja besok pagi ke puskesmas.  Tapi gatau kenapa hati tuh kaya ga tenang, akhirnya udahlah kita putuskan langsung aja ke RS Cicendo. Kalau dibilang pegang uang ya engga juga sih saat itu, tp Bismillah aja kalau memang ditolak BPJS aku ingin suami cepet operasi karena kami paham resikonya kalau ga segera ditangani. 

Akhirnya kita sampai sore di RS Cicendo langsung masuk IGD dan alhamdulillahnya karena ini masuk ke gawat darurat langsung ditangani dan cover BPJS. Tau gitu dari pagi kita langsung kesini..
nah inilah jadi BPJS dibilang ribet ya ribet kalau kita ga ngerti peraturannya.
Hari itu juga suami langsung masuk rawat inap dan dijadwalkan operasi besok paginya. 
Oh iya kalau diliat secara fisik dari luar mata suami itu ga ada ciri apa pun masih seperti normal, jadi yang bisa merasakan hanya suamiku aja. 

Suami aku operasi dengan bius total, masuk persiapan operasi jam 8 baru keluar kurang lebih jam 14.00. Kalau dengar dari dokter dibilang sobeknya sudah lebih dari 180 derajat. 

Komentar